Aku adalah seorang wanita biasa hingga suatu hari ketika aku mulai masuk didalam suatu lingkungan yang dinamai kampus. Pagi itu aku lihat seorang lelaki dengan gaya calmnya terlambat memasuki ruangan bisa dibilang dia salah kelas. Waktu itu sudah jam kedua pelajaran awalnya aku cuek dan tidak merasakan apa-apa.
Beberapa minggu kemudian dia duduk disebelahku dan kami mulai berbicara untuk pertama kalinya, ku lihat ada sosok yang berbeda dari semua teman cowok yang ada di sekelilingku. Dia begitu dingin tetapi di balik dinginnya itu dia sangat baik.
Mungkin aku mulai merasakan sesuatu yang sebenarnya aku tidak boleh rasakan, apa itu? saat hujan gerimis membasahi kota yang sudah lama tidak disirami ini. Aku duduk di depan pohon dan tiba-tiba sosok itu datang menghampiri dan berkata, "hey". Aku terkejut dengan pipi yang sudah basah karna gerimis. "ini, ambil dan lap pipi kamu itu," dia memberiku sapu tangan merah dengan cara bicaranya yang dingin. Aku ambil dan ku usapkan ke muka, lalu lelaki itu pergi belum sempat kata terimakasih terucap. Ku simpan sapu tangan itu didalam tas dan mulai berjalan pulang kerumah. Aku merasa lelaki itu sangat dekat dengan diriku tetapi aku tidak tau apa itu sepanjang jalan pulang aku hanya berfikir tentang itu yang sebenarnya tidak masuk akal.
Aku mulai memandang penuh dengan wajah serius didalam ruangan itu untuk menemukan sosok yang memberi ku pinjaman sapu tangan itu, ada sosok yang ku kenal di sudut kelas yah itu dia, aku mulai mendeatinya dan aku mulai mengembalikan sapu tangan itu.
"hey, terimakasih atas sapu tangannya, ini sudah ku cuci."
"buat apa kamu kembalikan?"
dengan wajah heran aku mulai menjawab "aku tau ini sapu tangan berharga yang kamu miliki karena di sapu tangan itu ada tulisan namamu, pastinya itu berharga bukan?" aku mulai mencoba menebak-nebak yang sebenarnya belum tau benar. Tetapi lelaki itu malah pergi dan tidak menghiraukan sapu tangan yang ku berikan,
Keesokkannya aku masih memperhatikan sosok dia yang dalam benak ku pernah aku kenali tetapi aku tidak bisa memaksa otakku untuk mengingatnya. Dia tampak tampan hari ini dengan kemeja coklat yang bergaris hitam. Dia tau aku sedang memandanginya. Ada yang lain dari matanya, matanya tampak habis menangis tapi ingin ku dekati aku takut dia menjauh. Hingga aku hanya memutuskan untuk tetap duduk terdiam sambil menggengam pena kesayanganku. Dia mendekat dan mulai mengajakku kesuatu tempat kebetulan jam sewaktu itu kosong. Aku berjalan beriringan disepanjang jalan aku diam, dan dia diam, lalu dalam hati aku bertanya-tanya maksud lelaki ini apa membawaku pergi tetapi tidak pernah berbicara sepanjang jalan.
Akhirnya sampai disuatu tempat aku tidak tau pasti tempat apa ini yang ku lihat hanya ada bangku dan pohon yang udaranya memang sangat segar untuk dinikmati.
"kesini, lihat itu," sahut lelaki yang berbola mata coklat ini.
"sudah, lalu?"
"perhatikan saja."
Aku bingung dengan apa yang dia suruh tetapi aku hanya mengikutinya, dan tiba-tiba dia mengajakku kembali kekelas. "Jadi hanya itu?" kataku dalam hati yang mulai kesal. Aku bingung dengan lelaki yang tidak jelas ini mengajakku dan hanya bicara seadanya bukannya seadanya tetapi lebih tidak jelas apa maunya.
Sesampai di kelas aku mengambil tas dan pulang dan sapu tangan yang masih terletak di atas meja tadi aku masukan dalam tas dan aku tidak ada hasrat lagi ingin mendekatinya.
Dua minggu berlalu lelaki aneh itu tidak pernah kulihat lagi, aku mulai mencari tau tetapi aku tidak tau ingin mencari kemana, dia begitu misterius. Hingga siang itu aku mendapatkan alamat rumahnya dan aku memberanikan diri datang walau sebenarnya aku bukan siapa-siapa tetapi didalam hati ini rasanya aku sangat dekat dengan lelaki yang selalu membuat pikiranku rumit. Aku berjalan menuju rumahnya yang ternyata sangat jauh dari rumahku. Aku ketok pintu rumah dan dengan terkejut saat pintu rumah itu terbuka ada sosok seorang wanita memelukku, aku terpaku terkejut wanita itu meneteskan air mata kelihatannya itu air mata bahagia tetapi masih saja aku bingung dan mulai ku lepas dekapan wanita yang berbaju ungu muda ini.
"Maaf sebelumnya bu, saya kesini ingin mencari andre, ada?"
"Andre? Kamu Tania kan?"
Aku bingung ibu ini kenapa bisa mengenal namaku, lagi-lagi kepalaku sakit dan tidak terkontrol dan aku mulai terjatuh dengan badan yang tidak bisa seimbang lagi. Beberapa menit kemudian aku sadar ternyata aku pingsan. Dan ibu yang lemah lembut ini mulai bercerita kepadaku.
"Tania, kamu tidak ingat apa-apa? Saya ibunya Andre, kamu juga tidak ingat Andre? Tan, ini tante nak. Dulu tiga tahun yang lalu kami sekelurga pindah ke Australia. Dan mama kamu menelpon Andre dan memberitahu bahwa kamu kecelakaan dan sebagian memori kamu hilang. Andre memutuskan untuk pulang ke Indonesia lagi dengan dia memuuskan kuliah disini, dia di sana tidak pernah tenang sampai melihat kamu dengan matanya sendiri. Dia tidak ingin kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Hubungan kalian berdua berakhir saat Andre berangkat ke Australia dan dia menyesal meninggalkan kamu, dia merasa kecelakaan itu terjadi karena dia, saat dia tidak bisa menjaga kamu. Tante senang melihat kamu baik-baik saja "ujar wanita cantik yang lembut ini sambil meneteskan air mata".
Aku yang baru sadar dan sangat kebingungan mendengar semuanya. Sebenarnya awal melihat lelaki misterius itu aku sudah merasa dekat tapi aku tidak tau dia siapa dan aku tidak ingin memaksa otakku mengingat karena aku tau aku bisa pingsan jika mengingatnya. Dengan tenang aku jawab menjawab pertanyaan wanita itu "Tan, Tania gak tau apa-apa. Memang Tania pernah kecelakaan tapi mama tidak pernah bilang ada sebagian memori Tania ada yang hilang. Mama pernah bilang ingat Andre tetapi Tania jawab tidak karena Tania memang gak pernah merasa mengenal nama itu."
"Tania sayang mama kamu sengaja tidak ingin menjelaskan karena fisik kamu yang sama sekali tidak mendukung, maka dari itu Andre sangat terpukul dengan kejadiann itu."
"Lalu Andre sekarang dimana nte?"
"Andre? heeem... Andre di rumah sakit tan. Dia sudah dua tahun ini terkena jatung.
"apa?" aku terkejut dan tidak menyangka ternyata orang yang aku bilang aneh itu adalah orang yang sangat aku sayang. Aku bergegas ke rumah sakit dan ingin melihat Andre.
Sore mendung itu ku duduk didepan ICU, menunggu sampai Andre sadar, ketika Andre sadar dia harus menjalani operasi. Aku mulai meneteskan air mata jadi selama ini, maksud lelaki yang ternyata adalah orang yang aku sayang ternyata ini. Tuhaaaan aku mohon sembuhkan dia, aku ingin punya waktu lebih lama bersamanya walau aku tidak sepenuhnya bisa ingat dia, aku berdoa dengan air mata melinang dipipi.
Tiba-tiba ada suara lelaki yang memanggil ku.
"Taniaaaa...."
Aku menoleh dan memandang "ndre?" dan laki-laki itu memeluku dan air matanya mulai jatuh. Lelaki yang dingin, misterius, gagah, kini dia seperti tak berdaya. Dia mencium keningku dan bicara "Tania maafkan aku selamaa ini.....," belum sempat dia menyambung ucapannya aku rangkul dia kekamarnya.
"sekarang bicaralah ndre."
"Sayang, kamu masih tidak ingat aku? aku orang yang selalu sayang sama kamu dari empat tahun lalu hingga sekarang. Aku tau keputusan ku pergi ke Australia sangat bodoh, hingga kamu seperti ini apalagi saat di bandara aku memutuskan untuk putusm jujur dalam benakku aku tidak ingin mengakhiri semuanya, aku hanya ingin kamu tenang disini tidak memikirkan aku. Tan..... (sambil menggenggam tanganku)
"apa? lalu apa? ndreee aku ini tidak bisa ingat apa-apa tetapi kenapa kamu tidak pernah bisa jelaskan sewaktu kita jumpa di kelas? kenapa? ndreeeeeee jawab!!
"Aku ingin kamu ingat semua secara perlahan tan, apalagi setelah aku mendengar dari mama kamu, pemikiran kamu itu belum stabil walau kamu sudah lama amnesia. Kamu akan pingsan jika terlalu memaksakan otakmu mengingat.
"sapu tangan merah? bangku? pohon? itu semua apa?" aku mulai menangis seakan tidak berdaya.
"sapu tangan? itu hadiah yang kamu beri untukku. Itu jahitan kamu sendiri. Pohon? Bangku? Itu semua tempat dimana kita selalu duduku bercerita, berantem.
Aku mulai melepaskan tangan Andre dan mulai membelakanginya. "Jadi semuanya? Aku paham semuanya, aku sadar dengan sapu tangan, pohon, bangku itu kamu membuat agar aku ingat secara perlahankan? tapi ndre aku bahkan tidak bisa ingat ndre, kamu tau itu? ndre kenapa aku mesti tau semuanya lagi saat kamu sekarat seperti ini ndre, aku selalu merasa dekat dengan sosok kamu tapi aku tidak tau kenapa jadi sekarang aku sudah tau semuanyya ndre, aku tau arti perasaan yang selalu membayangiku. Ndre kamu jahat!"
Andre memelukku dan bilang "aku sayang kamu Tan, maafin aku yang tidak bisa mengerti caranya bagaimana membuatmu bahagia, Sejujurnya aku tersiksa melihat orang yang aku sayang tidak mengenaliku sama sekali. Tan, aku ingin kamu tau butuh waktu untuk aku berani mengungkapkan semuanya, aku gak berani bikin hati kamu sakit, mungkin kamu lebih baik tidak ingat aku lagi tetapi hati aku tetap tidak tenang aku tidak ingin penyesalan lagi."
Aku hanya bisa menangis, mukaku basah karna air mata. Aku mulai mengingat sedikit demi sedikit tentang aku dan Andre, dan tangan Andre masih saja memelukku dengan wajahnya yang sangat pucat. Aku ingin dia kembali sehat tuhan kataku dalam hati. Andre tiba-tiba bicara dan bilang "Tan kamu sudah tau semuanya bukan? intinya aku sayang sama kamu tan, jaga diri kamu baik-baik tan, mungkin ini terakhir kali aku bisa menjaga kamu. Kalau dulu aku bisa menjaga kamu dimana aja walaupun aku sedang jauh sekarang mungkin aku hanya bisa titipkan kamu sama tuhan Tan." Aku mulai membalikkan tubuh ke hadapan Andre dan berkata "aku gak bisa dengar kata-kata itu ndre, jangan tinggalin aku untuk kesekian kalinya ndre, aku mohon." Andre mencium keningku lagi dan berkata "I love you tan" dan dia memelukku. Detik berlalu badan Andre mulai mendingin, dan tangannya mulai terlepas dari dekapanku. Aku tau ini apa dan tiba-tiba aku berteriak histeris "Andreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee jahat, kamu ninggalin aku lagi!! Andreeeeeee kamu bercandakan ndre? bangun ndre, jangn bercanda ndre!!"
Dokter mulai memindahkan Andre yang tadi di sofa bersamaku sekarang di atas tempat tidur. Aku masih shock dengan semuanya, seandainya aku tau lebih dulu pasti ini tidak akan terjadi. Aku cium keningnya untuk terakhir kalinya dan bilang "Andre, tania juga sayang kamu." Air mataku tidak henti jatuh dan mamaku merangkulku. Rasanya aku lebih terpukul dari kejadia empat tahun yang lalu.
Kini Andre pergi untuk selamanya.....