Pages

21 Okt 2012

Pelukan jarak (part 1)

Pagi itu udara sangat cerah dengan hiruk pikuknya sebuah kota metroplitan, aku baru saja selesai memberesi kamarku dan bergegas menuju kamar mandi tapi ada yang membuat langkah kaki ku terhenti. "Kiraaaaaaaaaaaaaaaaaa" suara mama tampak jelas mendarat ditelingaku dan dengan segera aku menghampirinya "iya, ada apa ma?" mama dengan gayanya yang seakan mau menghukum karna suatu kesalahan yang ku buat tiba-tiba aku di peluk dan di cium dan mama berkata "Kira, selamat ya kamu menang sayang." Aku pun tambah kebingungan, dan kulihat sebuah kertas berwarna merah muda yang bersegitiga ditangan mama, aku ambil dan ku baca isi kertas itu "Selamat tulisan kamu terpilih, dan kamu mendapat beasiswa ke Amerika untuk mendalami tulisan kamu" Aku terheran dan berkata kepada mama "sejak kapan aku mengirim tulisan, ma?" mama dengan rasa bahagianya menyuruh aku bergegas mandi tapi aku belum sama sekali mendapat jawaban atas pertanyaanku tadi.

"Kira" sahut papa.

"iya pa, apa?"

"nak, sebenarnya tulisan itu papa yang kirim. Sengaja papa ambil di blog kamu."

"Pa, apa mesti Kira ke Amerika?"

"Sayang, ini kesempatan kamu nak."

Aku meneteskan air mata dan memeluk papa tanpa berkata apa-apa dan mama datang membawa secangkir coklat kesukaanku. Akhirnya setelah mendengar penjelasan papa dan mama aku tersadar bahwa selama ini mereka selalu memperhatikan aku. Tapi, Amerika? itu bukan sebuah negri yang dekat, itu sangat jauh. Bagaimana jika aku rindu papa, mama, sahabat begitupun pacarku. Aku mulai berjalan ke kamar dan meninggalkan papa dan mama yang sedang berbicara senang tentang perlengkapan apa saja yang akan ku bawa. Aku mengambil bantal dan memeluknya tiba-tiba bantal itu basah oleh air mataku. Ku pandangi seisi kamarku yang berwarna merah jambu itu, dan tidak satu pun pesan yang datang di ponsel ku balas.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dan didalam kelas aku hanya terdiam tidak seperti Kira yang selalu gembira. Seharusnya aku gembira menceritakan bahwa aku akan ke Amerika seperti cita-citaku ingin menjadi penulis terkenal tapi ini malah sebaliknya aku seperti patah semangat. Tiba-tiba lelaki yang biasa ku panggil dia cemot datang, dia adalah kekasihku, kami sudah empat tahun berpacaran tapi kini dalam hati aku tidak benar-benar yakin akan bertahan lagi selamanya untuk kedepan. Sebelum dia memulai pembicaraan aku tarik tangannya dan ku bawa dia kebelakang sekolah yah itu adalah salah satu tempat dimana kami sering bersama. 

"Mot.. aku harus ke Amerika!"

"kamu bercanda hari gini mit!!"

Dia masih tidak bisa percaya kalau aku nantinya akan meninggalkan dia dengan jarak yang begitu jauh. Aku hanya mencoba menjelaskan dengan sebaik-baiknya agar kami tidak saling kecewa dengan keputusan kedepannya.

"Keeeeeeeey! dengar aku key, aku gak bercanda!! Aku harus ke Amerika melanjutkan study, papa mengirimkan tulisanku dan aku berhasil menang dalam perlombaan itu, aku mendapatkan beasiswa khusus untuk mendalami tulisan di salah satu sekolah yang terbagus di Amerika dan itu butuh waktu sangat lama yaitu empat tahun!! apa kamu tetap tidak yakin? apa gununya aku bercanda? Aku berangkat seminggu lagi mot, maafin aku, aku gak tau mau berbuat apalagi. Amerika adalah masa depanku. Masih kah kamu mau menantiku?"

Key sapaan biasanya sangat terkejut dengan pengakuanku, mungkin dia masih tidak percaya dengan semua ini. Dia memelukku dan meyakinkan ku bahwa dia sanggup menanti aku. "Mit, kamu yakin aku disini gak bakal kecewain kamu, kamu raih impian kamu disana ya, aku bakalan nunggu kamu. Pasti aku tunggu walau aku tidak pasti tau apa yang akan terjadi empat tahun kedepan mit, aku sayang kamu." mendengar kata-kata Key seperti itu aku semangatku kembali lagi, dan kami pun berjanji akan saling menunggu walau pada akhirnya kami tidak akan tau apa yang akan terjadi. Kami berdua kembali ke kelas, dan aku bercerita kepada sahabat dekatku, awalnya mereka sama dengan Key tidak percaya sama sekali tapi pada akhirnya mereka jadi penyemangat yang membuat semangatku lebih optimal lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar