Pages

18 Des 2014

Al-mir'ah Menghidupkan Mimpiku Kembali



Hari terasa cerah, burung-burung bernyanyi kian merdu mengiringi perputaran roda-roda kehidupan. Waktu terus berjalan seiring perubahan zaman yang begitu pesat. Pagi itu aku berangkat ke sekolah, ku lewati jalan beraspal hitam kian panas membakar ban mobil dan sepeda mobil yang melintas di atasnya. Hampir sama yang ku rasa dengan pagi-pagi yang kemaren dan tidak ada bedanya, semenjak SMA aku merasa ada yang hilang. Mading, sebuah kata yang hanya terdiri dari enam kata yang dulu telah membangun keberanianku, kini semenjak SMA terasa ada yang hilang karena mading di SMA ku sudah di tiadakan dan rasanya itu bagaikan tinta yang tiba-tiba habis ketika menulis. Ketika aku ingin membangunnya lagi serasa sekolah menentang keinginanku dan meragukan semua ini. Seolah aku tidak dikasih kesempatan membuktikannya.
Bel pulang pun berbunyi, aku berjalan menuju sebuah tempat makan. Ketika ke sini aku selalu mengambil tempat duduk di sofa merah persis di pojokan dengan jendela  terbuka dan terlihat pemandangan jalanan indah. Desain interior yang sangat lucu dan elegant membuat aku betah berlama-lama di tempat ini. Seseorang bertopi itam, kemeja rapi, berbibir tipis dengan membawakan secangkir minuman menghampiriku, ya… tanpa harus ku pesan dan jelaskan panjang lebar, lelaki ramah ini selalu tau apa kesukaanku. Dan dengan perlahan dia mulai pergi dari hadapanku suara hentakkan kakinya pun tiba-tiba lenyap di pendengaranku. Aku kembali lagi dalam lamunanku dengan di temani secangkir tiramisu latte. Aku rindu dengan masa-masa SMP pada saat aku menjabat sebagai Pimpinan Umum Jurnalistik dan Mading sekolah. Sekarang untuk membuat seperti itu bagaikan pundak merindukan bulan.
Hujan mulai membasahi kota panas ini. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Aku memalingkan pandangan ke layar handphone yang tiba-tiba berdering. Sebuah pesan singkat dari wakil kepala sekolah, yang memberitahu ada perlombaan mading se-provinsi Riau, jika aku berhasil memenangkannya, sekolah akan membuka kembali kegiatan Jurnalistik dan Mading. Aku berterik bahagia, hampir setiap sudut ruangan itu bergema karena suara teriakanku yang cempreng, membuat semua orang yang lagi menikmati hidangan melayangkan pandangannya ke hadapanku. Dengan senyum malu aku berkata maaf.
Aku bergegas pulang ke rumah dan menghubungi beberapa teman yang menurutku bisa aku ajak kerjasama. Aku mulai mencari informasi tentang persyaratan lomba tersebut. 

Tepat pukul 19.30 WIB, teman-temanku datang ke rumah. Seperti biasa aku selalu berkumpul dengan temanku di gazebo sebelah rumah dengan lampu-lampu neon bermergelapan di sekitar pohon akasia yang menghiasi halamanku, seakan malam itu bermandi cahaya seperti hatiku yang sedang bercahaya gembira. Rapat pun di mulai dengan menyusun rancangan isi dan design mading karena dipersyaratan mading harus dari barang-barang bekas. Dan aku memutuskan untuk membuat nama madingnya adalah Al-mir’ah, nama ini diambil dari bahasa arab dan aku berharap nama ini bisa membawa mimpiku menjadi kenyataan. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dengan angin malam yang membuat dinginnya menusuk hingga ke tulang dan seharusnya jam segini anak sekolah sudah tidur tetapi kita baru saja kelar menyusun rancangan untuk perlombaan.
Satu tahun duduk di bangku SMA, baru pagi ini menjadi hal berbeda di dalam hidupku. Seperti halnya aku memenangkan sebuah undian berhadiah. Walaupun keinginanku sepenuhnya masih dalam masa perjuangan setidaknya aku bahagia masih di beri kesempatan. “Dhea kamu pasti bisa memenangkan perlombaan itu” suara lembut yang tiba-tiba singgah di telingaku, ternyata itu suara dari wali kelasku yang menurutku dia adalah mama keduaku pada saat di sekolah. Dengan penuh wajah berseri-seri aku menjawab “ Inysaallah buk, doakan ya”.
Hari berlalu dengan cepat tanpa terasa hari yang ditunggu tinggal menghitung detik jam. Jam seolah enggan berjalan cepat, rasanya denyut jantung dan jam perdetiknya sudah mulai senada. Aku yang masih enggan masuk menuju registrasi lomba, mulai berdoa didalam hati dan Cuma berharap yang terbaik dari semua usaha aku dan teman-teman lakukan. Tiba-tiba ada yang menarik tanganku dan berkata “ dhea ayo kita mausk dan harus semangat apapun hasilnya”, aku hanya membalas perkataanya dengan senyum indahku, Kakiku perlahan mulai berjalan menuju ruangan registrasi dan lomba. Tepat pukul 10.00 WIB lomba dimulai, aku dan teman-teman sangat berhati-hati dalam merangkai mading yang ingin kita buat. Tetapi pandangan mata tidak pernah bisa lari dari pandangan untuk melihat karya yang lain yang lebih bagus dan merasa punya kita masih banyak kekurangan. Terasa mata ingin ku butakan sedetik itu juga. Dari kejauhan ada suara perempuan yang berteriak,‘ semangat anakku’. Itu adalah suara merdunya seorang perempuan berbaju merah dari pojokan garis lomba yang sudah melahirkan dan membesarkanku, dan terlihat disampingnya seorang pria gagah yang selalu menemani hidupnya. Mereka berdua selalu membuatku bersemangat walapun hanya dengan satu kata yang mereka utarakan, seakan satu kata itu bagaikan emas dalam hidupku.
Penantian memang menyakitkan. Aku coba untuk bersabar semampunya. Hati mulai dipaut rasa resah. Setiap peserta berdiri di depan panggung yang berhias balon dan pernak-pernik lainnya, di atas berdiri seorang gadis cantik bersolek bagaikan panggung miliknya dengan memegang sebuah kertas pengumuman. Gadis berbibir tipis dengan olesan lipstick merah mulai berbicara dan mengumumkan pemenang dari Lomba Mading Se-Provinsi Riau di menangkan oleh Al-Mir’ah. Aku terdiam terpaku, seolah-olah tidak bisa berkata-kata lagi, aku lari memeluk mama sambil menangis bahagia. Aku bahagia apa yang aku inginkan bisa tercapai, Allah mendengarkan doaku selama ini. Aku pun mulai berjalan menuju panggung mengambil hadiah dengan menyampaikan sepatah kata terimakasih.
Esok hari. Kepala Sekolah sudah menungguku. Dari balik kaca bening, jelas aku melihatnya mengutak-atik sebuah laptop. Aku duduk persis dihadapannya dan dia member salam selamat atas kemengangan yang sudah aku dapatkan, seperti perjanjian hari itu Kepala Sekolah resmi membuka kembali kegiatan Jurnalistik sekolah yang pernah mati. Kepala Sekolah akan memberi pengumuman ketika upacara senin. Aku pun meninggalkan ruangan yang persegi yang tidak terlalu besar. Teman-teman datang menghampiriku dan memberi semangat sambil memelukku hingga nafasku mulai hilang kendali.
Pagi Senin waktu yang aku tunggu datang juga. Setelah upacara, kepala sekolah sengaja tidak membubarkan siswa-siswinya. Kepala sekolah mengumumkan apa yang sudah dia janjikan kepadaku. Dengan rasa hormat pada saat itu dia juga menyerahkan tanggung jawab kegiatan jurnalistik kepadaku dan menyatakan aku sebagai Pimpinan Umum. Ya Allah terasa ini seperti mimpi, rasanya seperti desa mati yang baru saja dikasih aliran listrik. Tapi tulah kehidupan. Tiada apa yang mudah dalam kehidupan. Hidup ini adalah pertembungan antara realiti dan fantasi. Dan selalunya realiti sentiasa melingkari hidup lebih dari fantasi, walaupun ada kalanya fantasi itu indah untuk difikirkan tetapi jika kita berusaha apa yang kita inginkan pastilah bisa mendapatkan hasil sebagaimana usaha kita.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar