Hari terasa cerah, burung-burung
bernyanyi kian merdu mengiringi perputaran roda-roda kehidupan. Waktu terus
berjalan seiring perubahan zaman yang begitu pesat. Pagi itu aku berangkat ke
sekolah, ku lewati jalan beraspal hitam kian panas membakar ban mobil dan
sepeda mobil yang melintas di atasnya. Hampir sama yang ku rasa dengan
pagi-pagi yang kemaren dan tidak ada bedanya, semenjak SMA aku merasa ada yang
hilang. Mading, sebuah kata yang hanya terdiri dari enam kata yang dulu telah
membangun keberanianku, kini semenjak SMA terasa ada yang hilang karena mading
di SMA ku sudah di tiadakan dan rasanya itu bagaikan tinta yang tiba-tiba habis
ketika menulis. Ketika aku ingin membangunnya lagi serasa sekolah menentang
keinginanku dan meragukan semua ini. Seolah aku tidak dikasih kesempatan
membuktikannya.
Bel pulang pun berbunyi, aku berjalan
menuju sebuah tempat makan. Ketika ke sini aku selalu mengambil tempat duduk di
sofa merah persis di pojokan dengan jendela
terbuka dan terlihat pemandangan jalanan indah. Desain interior yang
sangat lucu dan elegant membuat aku betah berlama-lama di tempat ini. Seseorang
bertopi itam, kemeja rapi, berbibir tipis dengan membawakan secangkir minuman
menghampiriku, ya… tanpa harus ku pesan dan jelaskan panjang lebar, lelaki ramah
ini selalu tau apa kesukaanku. Dan dengan perlahan dia mulai pergi dari
hadapanku suara hentakkan kakinya pun tiba-tiba lenyap di pendengaranku. Aku
kembali lagi dalam lamunanku dengan di temani secangkir tiramisu latte. Aku
rindu dengan masa-masa SMP pada saat aku menjabat sebagai Pimpinan Umum
Jurnalistik dan Mading sekolah. Sekarang untuk membuat seperti itu bagaikan
pundak merindukan bulan.
Hujan mulai membasahi kota panas ini.
Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan
berebut singgah di telapak tangan. Aku memalingkan pandangan ke layar handphone
yang tiba-tiba berdering. Sebuah pesan singkat dari wakil kepala sekolah, yang
memberitahu ada perlombaan mading se-provinsi Riau, jika aku berhasil
memenangkannya, sekolah akan membuka kembali kegiatan Jurnalistik dan Mading.
Aku berterik bahagia, hampir setiap sudut ruangan itu bergema karena suara
teriakanku yang cempreng, membuat semua orang yang lagi menikmati hidangan
melayangkan pandangannya ke hadapanku. Dengan senyum malu aku berkata maaf.
Aku bergegas pulang ke rumah dan
menghubungi beberapa teman yang menurutku bisa aku ajak kerjasama. Aku mulai
mencari informasi tentang persyaratan lomba tersebut.
Tepat pukul 19.30 WIB, teman-temanku
datang ke rumah. Seperti biasa aku selalu berkumpul dengan temanku di gazebo
sebelah rumah dengan lampu-lampu neon bermergelapan di sekitar pohon akasia
yang menghiasi halamanku, seakan malam itu bermandi cahaya seperti hatiku yang
sedang bercahaya gembira. Rapat pun di mulai dengan menyusun rancangan isi dan
design mading karena dipersyaratan mading harus dari barang-barang bekas. Dan
aku memutuskan untuk membuat nama madingnya adalah Al-mir’ah, nama ini diambil
dari bahasa arab dan aku berharap nama ini bisa membawa mimpiku menjadi
kenyataan. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dengan angin malam yang
membuat dinginnya menusuk hingga ke tulang dan seharusnya jam segini anak
sekolah sudah tidur tetapi kita baru saja kelar menyusun rancangan untuk
perlombaan.
Satu tahun duduk di bangku SMA, baru
pagi ini menjadi hal berbeda di dalam hidupku. Seperti halnya aku memenangkan
sebuah undian berhadiah. Walaupun keinginanku sepenuhnya masih dalam masa
perjuangan setidaknya aku bahagia masih di beri kesempatan. “Dhea kamu pasti
bisa memenangkan perlombaan itu” suara lembut yang tiba-tiba singgah di
telingaku, ternyata itu suara dari wali kelasku yang menurutku dia adalah mama
keduaku pada saat di sekolah. Dengan penuh wajah berseri-seri aku menjawab “
Inysaallah buk, doakan ya”.
Hari berlalu dengan cepat tanpa
terasa hari yang ditunggu tinggal menghitung detik jam. Jam seolah enggan
berjalan cepat, rasanya denyut jantung dan jam perdetiknya sudah mulai senada.
Aku yang masih enggan masuk menuju registrasi lomba, mulai berdoa didalam hati dan
Cuma berharap yang terbaik dari semua usaha aku dan teman-teman lakukan.
Tiba-tiba ada yang menarik tanganku dan berkata “ dhea ayo kita mausk dan harus
semangat apapun hasilnya”, aku hanya membalas perkataanya dengan senyum
indahku, Kakiku perlahan mulai berjalan menuju ruangan registrasi dan lomba.
Tepat pukul 10.00 WIB lomba dimulai, aku dan teman-teman sangat berhati-hati
dalam merangkai mading yang ingin kita buat. Tetapi pandangan mata tidak pernah
bisa lari dari pandangan untuk melihat karya yang lain yang lebih bagus dan
merasa punya kita masih banyak kekurangan. Terasa mata ingin ku butakan sedetik
itu juga. Dari kejauhan ada suara perempuan yang berteriak,‘ semangat anakku’.
Itu adalah suara merdunya seorang perempuan berbaju merah dari pojokan garis
lomba yang sudah melahirkan dan membesarkanku, dan terlihat disampingnya
seorang pria gagah yang selalu menemani hidupnya. Mereka berdua selalu
membuatku bersemangat walapun hanya dengan satu kata yang mereka utarakan,
seakan satu kata itu bagaikan emas dalam hidupku.
Penantian memang menyakitkan. Aku
coba untuk bersabar semampunya. Hati mulai dipaut rasa resah. Setiap peserta
berdiri di depan panggung yang berhias balon dan pernak-pernik lainnya, di atas
berdiri seorang gadis cantik bersolek bagaikan panggung miliknya dengan
memegang sebuah kertas pengumuman. Gadis berbibir tipis dengan olesan lipstick
merah mulai berbicara dan mengumumkan pemenang dari Lomba Mading Se-Provinsi
Riau di menangkan oleh Al-Mir’ah. Aku terdiam terpaku, seolah-olah tidak bisa
berkata-kata lagi, aku lari memeluk mama sambil menangis bahagia. Aku bahagia
apa yang aku inginkan bisa tercapai, Allah mendengarkan doaku selama ini. Aku
pun mulai berjalan menuju panggung mengambil hadiah dengan menyampaikan sepatah
kata terimakasih.
Esok hari. Kepala Sekolah sudah
menungguku. Dari balik kaca bening, jelas aku melihatnya mengutak-atik sebuah
laptop. Aku duduk persis dihadapannya dan dia member salam selamat atas
kemengangan yang sudah aku dapatkan, seperti perjanjian hari itu Kepala Sekolah
resmi membuka kembali kegiatan Jurnalistik sekolah yang pernah mati. Kepala
Sekolah akan memberi pengumuman ketika upacara senin. Aku pun meninggalkan
ruangan yang persegi yang tidak terlalu besar. Teman-teman datang menghampiriku
dan memberi semangat sambil memelukku hingga nafasku mulai hilang kendali.
Pagi Senin waktu yang aku tunggu
datang juga. Setelah upacara, kepala sekolah sengaja tidak membubarkan
siswa-siswinya. Kepala sekolah mengumumkan apa yang sudah dia janjikan
kepadaku. Dengan rasa hormat pada saat itu dia juga menyerahkan tanggung jawab
kegiatan jurnalistik kepadaku dan menyatakan aku sebagai Pimpinan Umum. Ya
Allah terasa ini seperti mimpi, rasanya seperti desa mati yang baru saja
dikasih aliran listrik. Tapi tulah kehidupan. Tiada apa yang mudah dalam
kehidupan. Hidup ini adalah pertembungan antara realiti dan fantasi. Dan
selalunya realiti sentiasa melingkari hidup lebih dari fantasi, walaupun ada
kalanya fantasi itu indah untuk difikirkan tetapi jika kita berusaha apa yang
kita inginkan pastilah bisa mendapatkan hasil sebagaimana usaha kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar