ce

Hari terasa cerah, burung-burung bernyanyi kian merdu mengiringi perputaran roda-roda kehidupan. Waktu terus berjalan seiring perubahan zaman yang begitu pesat. Pagi itu aku berangkat kesekolah, ku lewati jalan beraspal hitam kian panas membakar ban mobil dan sepeda mobil yang melintas di atasnya. Sesampai disekolah aku meletakan tas, dan kulihat handphone ku, saat aku lagi menatap layar handphone aku dikejutkan oleh Lara, sahabatku. “wei, serius amat ngelihat layar handphonenya. “ujar lara. “apaan sih, “balasku sambil mencubit pipinya. Aku pun meletakkan kembali handphone kedalam tas.
“masih kelahi sama Raka say? “rayu Lara padaku.
“ntahlah, muak aja aku lihat sikap dia yang egois, aku gak boleh ini, gak boleh itu. Emang dia siapa kali, kan dia sekedar pacar doank, “sewotku padanya.
“udah yang sabar aja, kalau gak tahan putusin aja, daripada berantam terus. “ Lara sedikit mengasih solusi.
Sorenya aku udah gak tahan lagi harus kelahi terus dengan Raka, akhirnya aku mengirim sebuah pesan kalau aku kepengen mengakhiri hubungan aku sama dia. Setelah aku mengirim pesan itu, beberapa menit kemudian handphoneku bergetar. Aku melihat rupanya ada balasan pesan dari Raka, dia menyatakan kalau dia gak ingin hubungan ini berakhir karna masih banyak cara lain untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi apa boleh buat aku harus menyudahi hubungan ini, karna bagiku semuanya jika dipertahankan akan sia-sia. Raka terus-menerus bertanya apa aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Ia, dalam hati aku mencoba meyakini diriku sendiri. Walau sebenarnya tidak, akhir tepat pada tanggal 28 Desember 2009, jam 4 sore aku putus sama dia. Sehari itu sepertinya aku sanggup tanpa dia, “kataku dalam hati. Tiada pesan, telponan, handphone pun yang masuk hanya pesan-pesan dari teman. Gak ada lagi yang nanyain udah makan apa belum. Tapi itu tak memurungkan niatku. Beberapa hari kemudian aku jatuh sakit, aku terpaksa harus dirawat dirumah sakit walau hanya sehari. Ntah tau darimana Raka bisa tau kalau aku masuk rumah sakit, tiba-tiba handphone yang tidak pernah lagi menerima pesan dari dia sejak kata putus ku lontarkan, dan dia menanyai keadaanku, dia sepertinya tidak ingin melihat aku sakit. Sampai-sampai setiap malam dia menelponku dan menananyai aku sudah makan, minum obat. Perhatian sungguh diluar kendaliku, mengapa dia sekhwatir ini padaku. “ujarku dalam hati. Perhatiaan dia yang membuat aku ingin kembali padanya tapi apa disangkal, bibir ini tak sanggup mengungkapkan. Empat hari berlalu kondisiku pun mulai stabil, setelah kondisiku stabil aku tidak ada lagi berhubungan dengan Raka. Di dalam benakku hanya berkata “mungkin dia hanya khawatir melihat aku sakit, karna selama ku pacaran sama dia. Dia paling marah jika aku sampai sakit. Malam itu ntah apa yang terlintas dipikiranku, aku ingin rasanya kembali padanya. Ku kirim sebuah pesan, bahwa aku tidak bisa ngelupain dia, kenangan yang membuat aku selalu ingat padanya. Tapi, dia hanya menjawab “aku juga begitu, tapi aku tak pantas untukmu, aku selalu membuat kamu marah. Dan apa boleh dikata, aku harus menghargai keputusannya. Bulan pun berganti, tanpa sadarku aku lagi dekat sama temannya. Tiba-tiba ketika aku duduk diteras rumah, handphoneku berbunyi. Mamaku yang lagi asyik membaca majalah memanggilku karna handphoneku sudah dari tadi berbunyi, aku pun berjalan kekamar untuk mengambilnya. Ternyata telpon dari temannya Raka, Andre.
“ada apa ndre?
“kamu dimana de?
“dirumah.
“ketemu ya, ada yang pengen kubicarakan. Penting kali, ku kerumah ya?'
“ya datang aja.
Telpon pun terputus. Setelah beberapa menit berselang, suara ketukan pintu pun terdengar. Karna aku sudah tau Andre yang bakal datang, aku melarang papa membukanya. “biar aku saja yang membukanya, pa. “kataku sambil berjalan kedepan.
“kamu ndre! Katanya mau bicara, emangnya bicara apa?
“kamu balekan lagi ya sama Raka?
“kamu nyuruh aku pacaran lagi sama dia? Gak! Gak! Aku gak bisa pacaran lagi sama dia, dia udah terlalu sakit hati samaku, Ndre. Kamu gila aja.
“tapi, dia masih sayang sama kamu.
“udalah, kalau kamu mau ngmongin ini aja mendingan jangan, sama aja kamu bikin aku tambah nyesal mutusin dia dulu.
“ya sudahlah de.
Andre pun pamitan pulang. Aku menutup pintu, dan berlari kekamar. Tapi, sebelum sampai dikamar aku dihalang oleh mama dan papaku. “siapa yang datang sayang? “Tanya mereka sedikit menampakan wajah penasarannya yang ingin tau apa terjadi dideppan tadi. Ah, temannya Raka ma, pa. Mama dan papa aku gak tau kalau aku sudah putus darri Raka. Aku mengambil bantal guling, dan air mata penyesalan mulai ada dihatiku. “ah….. begok kali aku, aku harus nerima semua apa yang pernah aku putuskan. Sejak Andre menyuruh aku pacaran lagi sama Raka, aku selalu kepikiran dia. Aku gak tau apa yang harus ku perbuat. Seminggu berselang, sudah sebulan aku putus sama Raka. Dan aku nerima ajakan balek mantanku yang di Yogyakarta, walau itu cuman bertahan 4 hari. Karna aku gak bisa pacaran jarak jauh, dan dalam hatiku sampai saat ini hanya Raka, cowok yang sudah akau sakiti.
***
Beberapa hari kemudian, Tiara menelpon aku. Dan dia bilang kalau mantan pacarnya Ari sama aku, aku sih mau-mau aja sambil nambah teman. “ujarku. Ari adalah teman dekat Leo pacarnya Tiara. Mereka sama-sama anak basket begitu pun dengan Raka. Setelah aku kenalan sama Ari, kami sering smsan. Dan akhirnya seminggu setelah Tiara putus sama Leo aku pacaran sama Ari. Dalam hatiku hanya berfikir, apa kata Raka kalau dia tau aku pacaran sama Ari. Temannya satu basket. Tapi ini telah terjadi, aku gak bisa terpuruk dengan rasa penyesalan. Aku hanya berharap pacaran dengan Ari bisa ngilangin perasaanku sama Raka. Drttt….. tiba-tiba handphone aku bergetar, ada telpon dari Tiara ni, “ujar mama ynag mengambil handphoneku. Aku mengangkat telponnya, dan Tiara meminta bantuan aku agar dia bisa balek lagi sama Leo, karna dia gak mau diputusin Leo seperti itu saja. Aku hanya bisa menginyakan permintaanya, dan aku mengasih tau sama Ari kalau Tiara minta urus balek lagi sama Leo. Karna mengurus hubungan Tiara dan Leo. Aku jadi keseringan smsan sama Leo. Yang awalnya mama, dan papaku yang gak tau kalau aku sudah putus sama Raka. Akhirnya, mereka tau dan mereka tau aku sekarang pacaran sama Ari, kebetulan Mama Ari teman baik mamaku. Malam sabtu yang hening denagan udara yang sedikit dingin, Ari datang kerumahku. Mama hanya memperhatikan dari ruang tengah, aku hanya mencoba menyayangi seseorang yang sekarang ada didepan mataku. Ketika Ari pulang, mama memanggilku dengan tatapan penuh Tanya.
“duduk sini sayang.
“kamu udah yakin pacaran sama dia? Jangan bilang kamu hanya ngelampiaskan semuanya.
“ntah lah ma, aku sekarang lagi mencoba, aku capek ma. Aku kekamar dulu ya.
“ ya, pikir lagi perkataan mama ya.
Aku kembali kekamar, tempat dimana aku banyak menghabiskan waktuku. Aku terbaring diatas temapt tidur menatap langit-lagit dinding kamarku, dan aku berfikir. “Ari …………. Raka …………… dua pribadi yang sangat jauh berbeda. Boleh dibilang Ari lebih ganteng dari Raka. Tapi, yang bisa ngertin aku cuman Raka, Ari selalu menomor satukan basketnya. Sepertinya apa yang dibilang mama betul. Aku hanya jadikan dia tempat pelampiasanku.
Paginya disekolah sehabis jam pelajaran aku curhat sama teman sebelahku, Rey. Dia hanya menyarankan aku agar bisa bersikap dewasa, karna karma berlaku. Dia menyuruh aku memutuskan Ari, jika aku gak bisa benar-benar menyayanginya. Pembicaraann aku pun terputus dengan Rey, aku memutuskan untuk memutuskannya. Tapi aku butuh waktu, karna aku gak mau mutusin dia, aku buat cara lain agar dia mutusin aku. Aku selalu buat dia marah. Akhirnya saat aku dan teman-teman jurnalistik aku lagi berkumpul untuk mempersiapkan lomba besok pagi. Aku sama sekali seharian itu tidak menerima pesan atau telpon dari Ari. Tiba-tiba setelah sholat jum’at aku mencoba menghubunginya, ketika aku menanyai kabarnya dia langsung memutuskan aku. Ya, aku hanya tersenyum senang ketika dia memutuskan aku, karna emang ini yang aku harapkan. Teman-teman yang ada di dekat aku sangat terkejut melihat exspresi wajah ku yang tampak senang. Salah satu sahabat aku bilang padaku, mungkin kah kalian putus gara-gara Tiara, secarakan Tiara tidak pernah suka dengan hubungan kalian, ia walau dia yang mengurusnya. Ntah lah, rasaku tidak “jawabku dengan tegas.
Hari-hari kini ku jalani tanpa seseorang yang bernama Ari, tapi aku sangat senang. Begitu pun hubungan ku dengan raka, berjalan dengan baik. Raka bingung mengapa aku bisa putus sama dia. Dan raka menyangka aku yang cari masalah sama dia hingga aku diputusin dia. Tapi aku mencoba menjelaskan perihal yang terjadi di antara aku dan Ari. Raka mencoba memahami sedikit. Dimata nya aku masih seseorang yang telah membuat hancur perasaannya.
Putus dari Ari aku gak kekurangan teman sama sekali. Aku malahan dapat menambah teman ya salah satunya aku dapat berteman baik dengan sahabatnya. Setiap malam jika banyak sms gratis aku selalu mengirim sms ke semua teman-temanku, termasuk leo sahabat Ari. Dia merespect sms gila-gilaan aku. Dan sebaliknya kau pun begitu. Keesokan pagi aku mendapatkan sms dari tira yang berisikan bahwa dia tidak ingin aku ganggu. Aku bingung dengan semuanya. Tiba-tiba datang telpon dari sahabat aku dia bilang kalau Tiara kemarin curhat sama dia, dia menuduh kamu suka sama Leo. Aku pun terkejut, bergegas aku matikan telpon itu. Dalam benak aku hanya berfikir,”KAPAN AKU SUKA SAMA LEO !
Aku mencoba menelpon sepupunya Leo.
Tieettttttt…… (menunggu jawaban dari sepupu leo)
“ hallo, ada apa dhe ?
“ aku binggung san, aku dituduh suka sama Leo. Apa kamu ada cerita-cerita sama Tiara ?
“ aku kemarin Cuma bilang kalau kalian lagi dekat, itu aja. Itu pun bercanda.
“ ngapa gitu san kamu bilang sama dia?
“ aku diburuk-burukinnya.
“ adu,, soryy ya dhe gara-gara omongan aku yang ceplos. Tapi aku gak ada niat apa-apa kok.
“ o…. ya udah gak apa-apa, lagian aku gak salah. Gak perlu takut.
Aku pun mengakhiri telpon itu. Cerita ini sampai lah ditelinga Leo, malam itu dia datang kerumahku, dan dia mennyakan gimana kejadiannya. Aku pun menceritakannya. “ udah mulut dia kayak gak tau aja, sabar aja dhe, dia memang kayak gitu. Gak ada yang prcaya lagi,” sahut leo sedikit menyemangati. Aku pun tersenyum sedikit lega.
Malam itu aku tidak mempedulikan lagi masalah itu, aku gak mau mengambil pusing masalah itu. Walau sekarang hubungan aku dengan Tiara gak baik seperti dulu. Aku gak terlalau mempedulikannya, karna sesungguhnya aku gak salah. Waktu terus berjalan, hari berganti hari, minggu pun begitu. Aku tetap begitu gak terlalu memikirkan apa-apa. Akhirnya aku berfikir bahwa ini semua salahku mengapa aku putuskan Raka, dan masuk ke kehidupan Ari, seandainya aku tak pernah pacaran sama Ari setidaknya kejadian yang membuat kami salah paham ini tak bakal terjadi. Harappan aku satu-satu nya adalah tak mempedulikan walau sebenarnya hati ini segan sekali karna kami udah berteman dan karna masalah cowok kami kelahi. Tiba-tiba ketika aku melamun saat istirahat siang aku dikejutkan oleh sahabat aku.
“ udah dhe, jangan segitunya mikirin ni masalah, “dia mencoba menenangkan pikiran aku.
“tan, aku dah mencoba gak mikirin tapi apa dikata aku gak bisa bertahan dalam kehidupan seperti ini.
“kamu gak salah dhe .
“aku emang gak salah, tapi ini gara-gara aku udah terlanjur masuk kedalam situasi ini. Ini gara-gara aku pacaran sama Ari, mengakibatkan ini semua.
“ yakin dhe, kamu pasti bisa.
Akhirnya dengan diyakini Tania, aku percaya bahwa aku bisa ngelewati semuanya. Demi hari berganti, sudah cukup 2 bulan kami gak bertegur sapa. Akhirnya ntah angin apa yang bikin kami akrab kembali. Kami dipertemukan disebuah perlombaan. Disana lah hubungan kami mulai baik, dan dia menyadari bahwa sebenarnya ini hanya kesalah pahaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar